Sebuah Filosofi Klasik yang luar biasa


source : pinterest.com

Haloo semuanya. Tulisan aku kali ini adalah lanjutan dari tulisanku tentang buku-buku yang menjadi favorite ku di tahun 2022, dan khusus kali ini ialah sebuah filsafat kuno yang banyak mengajarkanku banyak hal tentang permasalahan hidup, dia adalah Filosofi Teras karya Henry Manmpiring. 

Untuk teman-teman yang mungkin sudah pernah membaca ini, atau sedang membaca ini aku pikir kalian sudah punya bayangan sendiri atau gambaran, dan pendapat sendiri terhadap buku ini.  Dan untuk aku sendiri, buku ini sangat bagus, reliable untuk dibaca oleh siapa saja, dan buku ini sudah dikemas sebaik mungkin, mulai dari cover, ilustrasi, dan pembawaan cerita yang menarik banget, juga pembahasaan yang mudah dimengerti. 

Buku yang banyak mengajarkan aku untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan burukku. Yah bisa dibilang tahun 2022 kemarin adalah tahun yang kuanggap sebagai tantangan, karena disana sering dihadapi persoalan hidup yang belum pernah aku alami. Ada beberapa yang sudah, tapi aku belum bisa menyelesaikannya dengan baik dan dingin. Nah semenjak baca buku ini aku kayak yang ‘wahhh’ pokoknya banyak sadarnya dan sedikit tertampar, karena ternyata masalah hidup ini nggak akan ada, nggak akan besar kalau kita sendiri yang mampu mengontrol dan menyelesaikannya dengan jalan yang baik.

Aku suka dengan designnya, di mana di bab-bab tertentu ada kutipan atau quotes yang ditaruh dalam satu halaman, dan juga terdapat gambar ilustrasi yang bisa membuat kita lebih paham lagi tentang isi yang sedang dibahas.

Dalam buku flosofi teras ini dia mengangkat filsafat lama yaitu filsuf stoa atau stoisisme di mana filsafat ini sudah ada sejak lama sejak zaman yunani. Nah kenapa filosofi ini sangat bagus kita terapkan karena sangat relevan dengan hidup kita sehari-hari. Dalam buku ini juga si henry manampiring penulisnya dia mengatakan bahwa filosofi ini adalah "the way of life". Berikut ini dia ajaran stoisisme atau filsafat stoa.

  • Hidup Selaras dengan Alam dan Dikotomi Kendali

    Hidup selaras dengan alam berarti melihat semua peristiwa di dalam hidup adalah bagian keterakitan dan sebab akibat dari semesta yang lebih besar ada sebagian hal dalam hidup yang berada di bawah kendali kita ada yang tidak di bawah kendali kita. Dikotomi kendali di mana ada hal dalam hidup kita yang bisa kita kendalikan dan tidak bisa kita kendalikan. Hal yang dapat kita kendalikan ialah segala hal yang ada di dalam diri kita, opini, pendapat, cara menyikapi  sesuatu, mindset kita. Dan apa saja yang berada di luar diri kita ialah hal yang tidak dapat kita kendalikan, opini dan pendapat orang lain, respon dan ekspetasi orang lain. Dan juga kita diajarkan untuk memikirkan hal hal yang penting saja. Kita harus bisa menempatkan kesempatan atau waktu berpikir kita kepada hal hal yang seharusnya daripada berpikir yang ada di luar kendali kita, contohnya memikirkan pendapat orang lain tentang kita. Stoisisme juga mengajarkan prinsip “amor fati” atau “love of fate” mencintai takdir.

  • I am A stoic

    Aku sangat tertarik ketika mengatakan “I am a stoic” itu berarti kita memengang erat ajaran stoisisme dalam kehidupan kita. Stoisisme berarti ‘santai saja’ jangan dijadiin stres. Banyak orang zaman sekarang menjadikan masalah kecil dalam hidupnya menjadi masalah yang serius padahal kalau disikapi dengan tenang dan mencoba untuk berpikir lagi kembali dan secara realistis ternyata itu bisa sangat mudah sekali! Tidak sulit untuk kita mengatakan bahwa kita adalah seorang stoic, tetapi kata para filsuf yang menerapkan ajaran ini tidak pernah menyebut diri mereka sebagai stoic. Namun mereka melakukannya dengan tindakan sebagai seorang stoic, tidak hanya kata saja namun dengan perlakuan.

  • Tidak Ada Peristiwa yang Baik dan Buruk

    Seperti yang dikatakan Epictetus¹, masalah dan peristiwa itu tidak ada yang buruk, karena yang buruk adalah pemikiran/pendapat dari diri kita sendiri. Jadi yang membuat suatu peristiwa itu menjadi buruk hanyalah pikiran-pikiran yang berkecamuk di benak kita. Peristiwa yang kita anggap buruk itu akan menjadi baik apabila kita menyikapinya dengan sudut pandang yang baik dan berbeda.

  • Memikirkan Kemungkinnan Terburuk Untuk Menghindari Kekecewaan

    Dalam memperkuat mental menghadap kesulitan hidup, Filosofi teras mimiliki sebuah tips yang terkesan paradoks (bertentangan). Dalam bahasa latin adalah premeditatio malorum atau pikirkanlah hal-hal buruk yang mungkin terjadi.

    Marcus Aurelius menuliskan, "Awali setiap hari dengan berkata pada diri sendiri; hari ini saya akan menemui ganngguan, orang-orang yang tidak tahu berterima kasih, hinaan, pengkhianatan, niat buruk, dan keegoisan--semua itu karena pelakunya tidak mengerti apa yang baik dan buruk"

    Berarti maksud dari "kita harus mengatakan kepada diri sendiri setiap harinya bahwa kita akan mendapati hal-hal yang buruk dan mungkin saja bisa terjadi" dan dengan itu ketika sesuatu yang buruk itu memang benar-benar terjadi kita sudah tidak merasa kaget lagi. Jadi bukan bermaksud untuk memikirkan hal-hal negatif. Ini juga membuat kita selalu siap untuk menghapadi skenario buruk ke depannya atau yang bahkan akan benar-benar terjadi. Iya betul kita harus selalu positif thingking tapi jangan sampai kita terlalu bahagia, excited sampai-sampai itu yang membuat kita ber ekspetasi tinggi, jadi kalo misalnya ekspetasinya tidak tercapai pasti langsung jadi down, namun kalo dari awal kita sudah was-was, karena tidak semua akan mulus, dan tidak semua juga akan jelek, pasti ada baik dan tidak baiknya. So kita tidak lagi kaget karna dari awal sudah diantisipasi.

    Contohnya, ketika kita ingin berpergian ke suatu tempat yang jauh misalnya. Dari awal kita sudah memikirkan 'mungkin saja di perjalanan nanti akan hujan jadi aku harus bawa jas hujan', 'mungkin saja nanti ada macet jadi aku harus berangkat pagi', dan lain-lain. Dengan begitu ketika itu terjadi kita sudah siap untuk menghadapinya.

    "Jika akhirnya semua hal buruk yang dibayangkan ternyata tidak terjadi, kita akan merasa lebih bahagia dengan hari kita. Ironisnya, negative thinking mungkin bisa membuat seseorang menjadi lebih bahagia" Henry Manampiring (filosofi teras)

  • Jangan Ribet

Kamu mendapatkan mentimun yang pahit? Ya buang aja. Ada semak berduri di jalan setapak yang kamu lalui? Ya berputar saja. Itu saja yang perlu kamu tahu. Tidak perlu menuntut penjelasan …"
    • Bertemu dengan Orang-Orang yang Menjengkelkan

"Kamu salah jika kamu melakukan kebaikan pada orang dan berharap di balas, dan tidak melihat perbuatan baik itu sendiri sudah menjadi upahmu. Apa yang kamu harapkan dari membantu seseorang? Tidakkah cukup bahwa kamu sudah melakukan yang dituntut alam? Kamu ingin diupah juga? Itu bagaikan mata menuntut imbalan karena sudah melihat, atau kaki meminta imbalan karena sudah melangkah. Memang sudah itu rancangan mereka… begitu juga manusia diciptakan untuk membantu sesama, kita melakukan apa yang sesuai dengan rancangan kita. Kita melakukan fungsi kita". Marcus Aurelius (Meditations)


Sesungguhnya balas dendam terbaik adalah dengan tidak berubah menjadi seperti sang pelaku, the best revenge is to be unlike him who performed the injury.

Marcus Aurelius (Meditations)

Untuk bisa menjadi sebuah penghinaan harus ada yang merasa terhina. Sebuah hinaan tidak benar-benar bisa melukai objeknya, kecuali diizinkan oleh objek itu sendiri. Ada yang senang menganggu kita? Memperovokasi? Mencari-cari kesalahan, bahkan menebar kebohongan tentag kita? Om piring bilang "stay your ground!". Tetap menjadi praktisi Stoa yang memegang kendali atas persepsi dan responnya dengan baik.

    • Mungkin Tidak Ada Motivasi Jahat

      "Ketika ada yang menyakitimu, atau berkata buruk tentangmu, ingatlah bahwa dia bertindak dan berbicara karena mengira itu memang tugasnya. Ingatlah bahwa tidak mungkin ia mengerti sudut pandang kita, tetapi hanya sudut pandang dia sendiri. Karenanya, jika dia melakukan kesalahan dalam menilai, sebenarnya dialah yang dirugikan karena dia telah tertipu (deceived). Jika seseorang menganggap sesuatu yang benar sebagai keliru, yang benar itu sendiri tidak rugi, tetapi justru dia yang tertipu yang rugi. Dengan prinsip ini kamu bisa dengan mudah rendah hati menanggung orang yang menghina kamu, dengan cukup berkata 'itu kan menurut dia'." Epictetus (Discouses)

      Epictetus mengingat adanya kemungkinan lain, yaitu bahwa orang tersebut "tidak bermaksud" menyakiti kita, tapi justru dia melakukannya untuk kebaikan menurut sudut pandang dia.

      Contoh pertanyaan "kapan kawin?" Pertanyaan ini mungkin saja agak menjengkelkan jika harus ditanya. Namun tahukah kita, bisa jadi orang yang bertanya itu benar-benar tidak mempuyai maksud dan tujuan yang jahat. Dia hanya ingin bertanya. Dia tidak tahu tentang tanggapan kita jika dia bertanya seperti itu, dia hanya mengikuti sudut pandangnya.

  • Mengasihani Mereka yang Jahat Kepada Kita

    Stoisisme percaya bahwa banyak orang yang berbuat jahat tidak karena berniat jahat. Menurut filsuf stoa orang yang berbuat jahat akibat ketidaktahuannya (ignorant) dan tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Atau karena dikuasai emosi maka dia kehilangan akal sehatnya walaupun hanya sesaat.

    Menyangkut orang jahat Epictetus berkata: "mengapa kamu justru mengasihaninya? Sama seperti kita merasa iba kepada mereka yang buta dan pincang, maka kita juga harus merasa iba kepada mereka yang nalarnya 'buta dan pincang'." discourses

    How much more demage anger and grief do than the things that cause them, marcus aurelius (meditations) kemarahan/baper kamu itu jauh lebih merusak daripada perlakuan itu sendiri.

    Ada teman yang ngeselin, jauhin aja! Hindari sebaik mungkin karena apabila mereka selalu berada dalam hidup kita maka itu adalah keburukan

    Seneca mengatakan bahwa manajemen waktu lebih penting dari manajemen uang. Karena uang dan harta selalu bisa dicari, tetapi waktu adalah harta yang tanpa ampun terus menghilang dari kehidupan kita, terus medekatkan diri kita kepada kematian.

    Banyak orang put too much energy on the problem. Harusnya elo put energy to the solution

    "Kesusahan yang datang terus menerus  membawa berkah ini: mereka yang selalu tertimpanya, akhirnya akan diperkuat olehnya" Seneca

    Interpretasi pertama yang bisa kita terapkan, di balik musibah ini ada kesempatan kita menjadi seseorang yang lebih kuat.

    "Jadilah seperti tebing di pinggir laut yang terus dihunjam ombak, tetapi tetap tegar dan justru menjinakkan murka air di sekitarnya" Marcus Aurelius, Mediations

  • Latihan Menderita/ Latihan Kemiskinan

    Di masa perdamaian, para tentara berlatih melakukan manuver, menggali tanah padahal tidak ada musuh, dan melelahkan diri dengan kerja keras yang sebenarnya tidak perlu, agar dia akhirnya siap ketika harus bekerja keras betulan.

    Jika kamu ingin tidak goyah saat krisis menghantam, latihlah ia sebelum krisii itu datang. Seneca Letters

    Pada intinya apakah kita bisa melepaskan kenyamanan yang bisa kita nikmati selama beberapa bulan. Bagi yang bisa naik mobil pribadi, cobalah untuk merasakan naik kendaraan umum. Yang bisa naik taksi cobalah untuk naik ojek. Yang bisa tidur di kamar ber AC cobalah untuk tidur di udara alami. Yang biasa tidur di kasur springbed cobalah tidur di kasur tipis. Yang biasa memakai smarphone cobalah untuk puasa internet? Hayo berat kan.

    Setelah melakukan ini semua, coba renungkan apakah hidup melarat ini sungguh-sungguh menakutkan? Apakah kondisi kekurangan ini sebuah bencana besar  dalam hidup kita ataukah setelah dijanalni ternyata tidak semenakutkan yang kita pikir (apalagi sudah terbiasa hidup berkecukupan). Karena ternyata kita tetap bisa hidup dengan pakaian yang sederhana, makanan sederhana, ternyata tidak ada yang peduli  dengan baju bagus kita. Atau ternyata kita bisa tidur tanpa fasilitas berlebih.

    Menurut William Irivine di dalam bukunya A Guide To Good Life, ada beberapa manfaat dari latihan kesusahan ini. Pertama kia akan menjadi lebih tangguh. Bagaikan tentara yang berlatih di masa damai, sehingga ketika pertempuan sebenarnya terjadi mereka sudah siap menghadapinya.

    Manfaat kedua dari practice poverty, adalah untuk membentuk rasa percaya diri, sehingga kita menanggung musibah dengan tabah dan kuat.

    Manfaat ketiga adalah melawan fenomena yang disebut ilmu psikologi sebagai hedonic adaptation, adaptasi kematian. Penjelasannya adalah kita akan beradaptasi dengan hal-hal baru yang tadinya membuat kita bahagia. Saat memenangkan kejuaraan, kelulusan, nilai tertinggi, kenaikan jabatan, membeli tas atau gadget baru atau bahkan mendapat suami/istri/pacar baru pada awalnya kita senang sekali. Namun seiring berjalannya waktu, kenikmatan yang kita rasakan perlahan turun.

    Menurut Irvine, practice poverty membantu kita melawan adaptasi kenikmatan tersebut. Dengan rutin mengguncang base level diri sendiri kita kembali menghargai apa yang telah kita miliki. Jika terbiasa makan enak, saat mengabiskan waktu untuk makan makanan yang tidak enak dan sangat sederahana, kita kembali mengapresiasi  makanan enak yang selama ini kita konsumsi. Saat terbiasa naik kendaraan pribadi, dan kemudian merasakan berdesakan bersama orang lain di kendaraan umum, kita akan kembali 'menemukan' nikmatnya kendaraan pribadi.

    Menurut Henry Manampiring, inilah manfaat terakhir dari latihan kemiskinan. Untuk mengajak kita (yang lebih beruntung) sesekali keluar dari kenyamanan yang telah kita anggap "normal" dan menyadari ada jutaan orang lainnya yang tidak seberuntung kita dan bisa merasakan apa yang mereka lalui setiap hari.

    Latihan kemiskinan menurutku adalah "sediakan payung sebelum hujan!"

  • Halangan Adalah Jalan

    Ketika steve jobs dipecat dari perusahaannya sendiri, dia tidak melihat ini sebagai musibah besar atau bahkan sesuatu yang mengambatnya untuk berkembang dan sukses. Akan tetapi peristiwa yang bagi kebanyakan orang adalah 'halangan' ini ternyata jalan baru bagi steve jobs.

    "dipecat dari apple adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku. Beratnya beban sukses, digantikan dengan rasa ringan menjadi pemula lagi". Dan dari situ dia mendaptkan ide-ide baru.

    Halangan adalah sebuah jalan, dan itu tergatung dari pikiran kita.

  • Tentang Kematian

    "Saya harus mati jika sekarang saatnya, biarlah saya mati sekarang. Jika masih nanti, saya mau makan siang dulu. Karena jam makan siang sudah tiba. Soal mati, nantilah saya urus" Epictetus, Discourses.

    Kematian tidak perlu dibesar-besarkan, karena memang sudah bagian dari hidup (bagian dari alam, nature). Kemudian jika waktu masih memungkinkan 'kita akan makan siang dulu' tanpa harus memusingkan hal yang belum terjadi. Bagi om piring, perkataan 'makan siang dulu' dari epictetus bisa dimaknai literal (beneran makan siang), atau bermakna bahwa harus tetap produktif dan bermanfaat sampai detik terakhir.

    Begitu juga dengan kisah Seneca mengenai Canus. Bahwa kematian yang sudah dekat jangan dibiarkan merebut kebahagiaan semasa hidup. Sampai momen-momen terakhir sekalipun.

  • Penutup/closing

    Kebahagiaan adalah efek samping ketika seseorang memaknai hidupnya sendiri, dan meraih makna itu. Kebahagiaan itu relatif. Setiap orang mempunyai definisi yang berbeda akan kebahagiaan.

    Filosofi berasal dari gabungan dua kata 'phylos' mencintai, dan 'sophie' kebijaksanaan. Bagi para filsuf stoa, tidaklah cukup untuk memahami dan membahas filsafat saja, tetapi filsafat harus diterapkan dalam kehidupan nyata.

    Para filsuf stoa tidak ingin menyebut dirinya "a stoic"  atau 'seroang stoa' di mana level ini sudah mencapai kebijaksanaan (level sage) di mana tidak ada orang yang bisa mencapi posisi itu, maka mereka memperlajari stoisisme dan memperaktikannya dalam hidup justru mendapat sebutan lain yaitu prokopton (yunani), atau progressor atau dia yang sedang berusaha menjadi lebih baik. 

    "Jangan hanya berkata kamu sudah membaca banyak buku. Tunjukkan bahwa melalui buku-buku tersebut kamu telah belajar untuk berpikir lebih baik, menjadi seseorang yang bijak memilih, memilah, dan merenung. Buku-buku bagaikan latihan beban bagi pikiran. Buku sangat membantu, tetapi sangatlah keliru jika kita mengira kita sudah menjadi lebih baik hanya dengan menghafal buku itu" ujar Epictetus (Discourses)


Mempraktikan Filosofi Teras

  1. Hidup selaras dengan alam, berarti menggunakan rasio/akal/nalar.
  2. Tujuan filosofi teras adalah hidup dengan ketenangan, bebas dari emosi negatif.
  3. Empat keutamaan (virtues): kebijaksanaan (wisdom), keadilan (justice), menahan diri(temperance), keberanian (courage)
  4. S-T-A-R (stop, think and asses, respond) selalu melakukan ini saat emosi negatif mulai menerpa.
  5. Hanya kita yang bisa mengizinkan orang lain menyakiti kita secara nonfisik (hinaan, celaan, cemoohan). Tidak penghinaan yang benar-benar terjadi jika tidak ada yang merasa terhina.
  6. Premediatio malorum, melatih membayangkan hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup kita sehingga kita bisa lebih siap.
  7. Banyak orang yang tidak bermaksud jahat, tetapi mereka tidak mengerti/tahu (ignorant)
  8. Instuct and endure. Tugas kita kepada sesama manusia adalah, mengajarkan menjadi lebih baik, jika tidak bisa, untuk bersabar terhadap mereka.
  9. Setiap musibah dan kesusahan adalah melatih kesempatan untuk melatih karakter dan mengembangkan kebajikan/keutamaan
  10. Kematian adalah bagian dari alam, tidak ada yang perlu ditakutkan.
  11. Latihan menderita secara berkala
  12. Dikotomi kendali
  13. Ritual pagi = premeditatio malorum
  14. Ritual malam = Seneca, hal benar apa yang telah saya lakukan hari ini, hal salah apa yang telah saya lakukan hari ini, bagaimana bisa saya berlaku baik. Yaitu belajar dari kesalahan.


PANDEMI

Mengapa pandemi ini harus terjadi? Ya kenapa nggak. Marcus Aurelius pernah berkata sesuatu di dunia ini terjadi berulang. Jika kita bisa menatap kehidupan manusia jauh di belakang, pandemi ini sudah menjadi hal yang biasa/normal dari kehidupan manusia. Kita yang sedang menjalaninya sekarang merasa sulit menerima hal ini karena mungkin inilah 'panedemi pertama' yang kita alami. Ini adalah fenomena alam, gabungan siat dari virus dan prilaku manusia.

Menikamti pandemi

"saat kamu sendirian, sebutlah itu sebagai 'ketenangan' dan 'kemerdekaan'. Saat kamu di tengah banyak orang, janganlah katakan ini sebagai kerumunan berisik, atau masalah, atau ketidaknyamanan. Namun anggaplah kamu sedang berada di pesta yang meriah, ditemani banyak orang, dan terimalah dengan puas." epictetus

Mungkinkah melihat pandemi ini sebagai sesuatu yang positif? Ada yang jadi punya banyak waktu berkumpul bersama keluarganya. Ada yang bisa menemukan hobi baru, berkembun misalnya, atau membaca buku di temani kopi yang hangat. Atau ada yang menemukan peluang atau ide bisnis baru.


Komentar

Postingan Populer